Diambil dari buku Bible Message (BBM) for Blackberry Messanger (BBM) – Xavier Quentin Pranata

Hidup adalah pilihan tapi begitu kita pilih tidak ada tombol undo. Yang ada tombol redo. Oleh sebab itu hati-hati dengan apa yang Anda pilih.

(Xavier Quentin Pranata)

Posted in Motivasi | Leave a comment

MENUNDA SAMA DENGAN MATI

Diambil dari Buku 100 Kisah Cekak Yang Membuat Bijak (Xavier Quentin Pranata)

“Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” —   maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata” (Amsal 6:10-11).

John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat ke-35, sering menceritakan tentang Louis Hubert Gonzalve Lyautey. Jendral Perancis ini suatu kali meminta tukang kebunnya untuk menanam pohon. “Pak, pohon jenis ini lambat sekali tumbuhnya dan baru besar setelah berusia 100 tahunan,” ujar tukang kebunnya.

“Kalau begitu, mengapa engkau tidak menanamnya sekarang supaya tidak buang-buang waktu!” jawab jenderal karismatis itu.

Saya sangat mengamini dengan pelajaran yang Kennedy berikan. Mengapa? Karena saya pernah bekerja tujuh belas tahun di media massa. Media massa cetak—koran, majalah, tabloid—memiliki istilah yang sangat populer yaitu death line. Apa artinya garis mati itu? Jika kita terlambat menyerahkan karya kita sampai waktu yang ditentukan, maka karya itu tidak ada artinya lagi. Apalagi jika tulisan itu berupa berita untuk koran harian. Jadi, begitu lewat tanggal yang ditentukan, maka nasib tulisan itu jelas: mati.

Kekasih Tuhan, oleh sebab itu, melakukan tugas dengan segera itu harga mati. Jika kita menunda pekerjaan kita, bukan saja kita berisiko kehilangan momentum, tetapi juga kehilangan penghasilan. Seorang sahabat saya bercerita bahwa dia pernah mengimport aksesoris handphone dari RRT. Namun, karena pengirimannya terlalu lama, sesampai di tanah air, handphone model itu sudah kuno dan berganti dengan yang baru. Otomatis aksesorisnya tidak laku dijual!

Doa: Bapa, beri aku kesadaran bahwa waktu itu tidak bisa menunggu. Begitu lewat maka aku akan kehilangan kesempatan.

Posted in Inspirasi | Leave a comment

DISURUH ISTRI

Diambil dari Buku 100 humor Suami Istri (Xavier Quentin Pranata)

Di depan pintu Surga tergantung papan bertuliskan, ‘UNTUK PARA LELAKI YANG SELAMA INI DIPERINTAH ISTRI MEREKA’. Di bawahnya terlihat barisan yang panjang sekali tiada habis-habisnya. Di sebelah papan itu, tergantung papan yang bertuliskan, ‘UNTUK PARA LELAKI YANG SELAMA INI TIDAK DIPERINTAH ISTRI MEREKA’. Di bawahnya, terlihat seorang lelaki. Rabbi menghampiri lelaki tersebut. “Mengapa kau berdiri disitu?” tanya Rabbi.

“Mana kutahu?” kata lelaki itu sambil menoleh kesana kemari, “Aku disuruh istriku.”

Posted in Humor | Leave a comment

TERJATUH TETAPI TETAP TEGUH

Diambil dari buku 100 Wisdom For Today (Xavier Quentin Pranata)

“Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” (Mazmur 37:24).

Saya pernah membaca sebuah kisah kuno yang sarat makna. Seekor keledai terjatuh di sebuah lubang di tanah. Dia mencoba untuk memanjat keluar, tetapi setiap kali dia melakukannya, dia gagal. Dia berteriak-teriak tetapi tidak seorang pun yang datang menolongnya. Karena terus-menerus menjerit minta tolong akhirnya pemiliknya datang, tetapi tidak menolong. “Keledai ini sudah tua dan merepotkan. Lebih baik saya kubur saja sekalian,” ujarnya.

Tidak lama kemudian orang-orang kampung menolong pemilik keledai itu untuk menimbun lubang itu dengan tanah. Mula-mula keledai itu sangat ketakutan karena mau dikubur hidup-hidup. Namun, tiba-tiba dia mendapatkan ide. Setiap kali tanah menimbun tubuhnya, dia menggoyang-goyangkan tubuhnya sehingga tanah itu jatuh ke kiri dan kanannya. Lalu dia naik ke atas tanah itu. Makin lama tanahnya makin tinggi dan tidak lama kemudian dia berhasil melompat keluar dari lubang itu.

Kekasih Tuhan, seringkali di dalam hidup, kita pun menghadapi masalah seperti keledai itu. Masalah datang bertubi-tubi. Sudah jatuh, tertimpa tangga, digigit anjing gila pula. Kita bisa berteriak minta tolong. Namun, teriakan minta tolong terbaik kita tujukan kepada Tuhan. Saya percaya, Tuhan sanggup mengangkat kita dari lubang. Kalau tidak, dia akan mengirimkan bantuan untuk menimbuni tanah di bawah kaki kita, sehingga kita bisa keluar dari lubang itu. Percayalah kepada Tuhan, maka Dia akan bertindak.

Doa: Bapa, ampuni aku jika seringkali aku kurang percaya kepada-Mu. Lewat renungan bijak hari ini, aku belajar untuk mempercayakan diri kepada-Mu.

Posted in Inspirasi | Leave a comment

BOLA KACA, BOLA KARET

Diambil dari buku 100 Inspiring Stories (Xavier Quentin Pranata)

“Jadilah bola pingpong yang semakin dibanting semakin tinggi melenting!” Xavier Quentin Pranata

Brian Dyson, mantan eksekutif Coca Cola, pernah menyampaikan pidato yang sangat menarik, “Bayangkan hidup itu seperti pemain akrobat dgn lima bola di udara. Anda bisa menamai bola itu dengan sebutan Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Sahabat, dan Semangat. Anda semuanya harus menjaga semua bola itu tetap di udara dan jangan sampai ada yang terjatuh. Kalaupun situasi mengharuskan Anda melepaskan salah satu di antara lima bola tersebut, lepaskanlah pekerjaan karena pekerjaan adalah BOLA KARET. Pada saat Anda menjatuhkannya, suatu saat ia akan melambung kembali, namun 4 bola lain seperti: Keluarga, Kesehatan, Sahabat dan Semangat adalah BOLA KACA. Jika Anda menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal!

Brian Dyson mencoba mengajak kita hidup secara seimbang. Pada kenyataannya, kita terlalu menjaga pekerjaan yamg adalah bola karet, bahkan kita mengorbankan Keluarga, Kesehatan, Sahabat dan Semangat demi menyelamatkan bola karet tersebut. Demi uang atau pekerjaan, kita mengabaikan keluarga. Demi meraih sukses dalam pekerjaan, kita jadi workaholic dan tidak memperhatikan kesehatan. Bahkan demi uang atau pekerjaan, kita rela menghancurkan hubungan dengan sahabat yang telah kita bangun bertahun tahun lamanya. Bukan berarti pekerjaan tidak penting, jangan sampai pekerjaan atau uang menjadi berhala dalam hidup kita.

Ingatlah, kalaupun kita kehilangan uang masih bisa kita cari lagi, tapi jika Keluarga sudah terjual, kemana kita membelinya lagi?

Point to Ponder: Kita tentu pernah mendengar banyak ungkapan tentang bola. Bola panas, artinya, masalah yang akan semakin membesar jika tidak segera kita selesaikan. Kedua menjemput bola. Artinya, kita adalah orang yang proaktif. Sebelum masalah tiba, kita sudah mengantisipasinya. Nah, apakah kita seorang yang suka melempar bola panas atau penjemput bola? Pilihan di tangan kita.

Action to Ponder: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5).

Posted in Kisah | Leave a comment

JALAN KE SORGA

Diambil dari buku 100 Ngakak Anak (Xavier Quentin Pranata)

Seorang Pendeta tiba di suatu kota kecil untuk melakukan suatu pelayanan di sana. Ia perlu mengeposkan sebuah surat, maka ketika ia melihat si kecil Indri ia bertanya pada anak itu dimana kantor pos.

Setelah anak itu menunjukkannya, pendeta itu menyatakan terimakasih dan berkata, “Kalau kamu dapat datang ke gereja sore ini, kamu akan mendengarkan  aku memberitahukan pada semua orang jalan menuju surga.”

Indri menjawab, “Bagaimana Bapak tahu jalan ke Surga, sedang jalan ke kantor pos pun tidak tahu.”

Posted in Humor | Leave a comment

BERKAH DI BALIK MUSIBAH

Diambil dari buku Kisah Inspirasional Plus (Xavier Quentin Pranata)

Firman Tuhan:

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (2 Kor. 12:9)

Kisah Kehidupan:

Indonesia menangis. Dua kalimat itu mungkin yang paling tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi kita saat ini. Bencana alam datang silih berganti. Tsunami, gempa, semburan lumpur, banjir datang tanpa diundang. Sakit penyakit seperti AIDS, cikungunya, demam berdarah, flu burung terus menerus meneror kita. Kecelakaan transportasi baik darat, laut maupun udara tanpa kenal lelah menghantui kita. Mengapa penderitaan menjadi langganan kita? Apa yang bisa kita lakukan?

Jawaban atas pertanyaan itu justru saya dapatkan dari beberapa buku yang memiliki judul yang kontroversial. Semua buku itu dimulai dengan pertanyaan yang sering kita tanyakan. Why A Good God Allow Suffering (Mengapa Allah yang Baik Mengizinkan Penderitaan); Where is God When It Hurts (Di Manakah Tuhan ketika Kita Menderita); bahkan When God Doesn’t Make Sense (Ketika Tuhan Tidak Masuk Akal).

Dari buku-buku itu saya belajar tentang The Gift of Pain alias berkah di balik musibah. Pertama, Tuhan mengizinkan penderitaan untuk menyadarkan kita bahwa kita adalah makhluk yang terbatas. Banyak hal yang sulit kita pahami. Otak kita tidak mampu memahami setiap fenomena alam yang terjadi. Itulah sebabnya kita harus bergantung harap kepada Tuhan.

Kedua, Tuhan ingin memperingatkan kita bahwa setiap perbuatan itu pasti ada konsekuensinya. Jika kita menggunduli hutan dan membuang sampah sembarangan, maka alam pun akan mengamuk. Air yang seharusnya menjadi sahabat kita bisa menjadi musuh kita. Api yang sangat bermanfaat untuk memasak justru bisa menjadi si jago merah yang menghanguskan rumah kita jika kita membuang puntung rokok sembarangan.

Ketiga, penderitaan itu bisa mempersatukan kita. Saat Tsunami melanda Aceh, gempa melanda Jogja dan lumpur menggenangi Sidoarjo, segenap lapisan masyarakat tanpa dikomando berdoa bersama dan bekerja bersama. Mereka tidak saja bekerja sama, tetapi sama-sama bekerja. Mari bergotong royong membangun bangsa.

Doa: Bapa, meskipun sulit kumengerti, tetapi penderitaan seringkali membawa hikmat bagiku untuk melangkah lebih baik lagi.

Posted in Inspirasi | Leave a comment

MELEPASKAN SEPATU

Diambil Dari buku 100 Humor Suami Istri (Xavier Quentin Pranata)

Seorang pria bercerita kepada temannya, “Setiap malam istriku selalu melepaskan sepatuku.” Lalu temannya menjawab, “Setiap kamu pulang, dengan setia dia melepaskan sepatumu? Wah, beruntung sekali kamu!” “Oh bukan begitu. Maksudku setiap aku akan pergi!” jawab pria tersebut.

Posted in Humor | Leave a comment

KERAMAHAN

Diambil Dari Buku Sukses Sejati (Xavier Quentin Pranata)

“Penduduk pulau itu sangat ramah terhadap kami. Mereka menyalakan api besar dan mengajak kami semua ke situ karena telah mulai hujan dan hawanya dingin” (Kisah 28:2).

Profesional, setiap kali ada orang yang bertanya, “Jika mengunjungi suatu tempat, apa yang paling Bapak lihat dan harapkan?” Saya selalu menjawab singkat, “Keramahan penduduknya.” Demikian juga jika saya mengunjungi toko. Ada sebuah restoran Perancis yang setiap kali saya datang, manajernya selalu menghampiri saya dengan senyuman ramah dan berkata, “Selamat datang Pak Xavier.” Demikian juga jika saya mampir di Warung Gudeg Bu Har di Surabaya, pemiliknya dengan senyum ramah selalu menyambut saya. Hal yang sama saya alami jika makan di Manise Restaurant di Perth. Pemiliknya, Johannes, bukan hanya menyambut dengan ramah, seringkali malah menambahkan lauk yang tidak ada di menu yang bisa bikin iri pelanggan lain ha, ha, ha.

Di bisnis apa pun, kemarahan tetap menjadi panglima. Seberapa sering kita membaca di surat kabar di rubrik “Pembaca Menulis” atau “Surat Pembaca” yang mengeluhkan pelayanan yang buruk. Seringkali di akhir suratnya mereka menulis, “Saya tidak akan datang ke tempat itu lagi!” Celakanya, cerita buruk semacam itu jauh lebih cepat menyebar daripada cerita yang baik dan mengesankan. Itulah sebabnya ketika makan bersama seorang penyanyi pendatang baru di sebuah depot seafood, ada tulisan yang belakangan sering terpampang di rumah-rumah makan: “Jika ada keluhan, hubungi kami. Jika berkesan, ceritakan kepada orang lain!”

Profesional, saya pun trauma untuk datang ke tempat-tempat yang karyawannya tidak ramah. Suatu kali saya makan di sebuah restoran besar bersama teman-teman. Kami booking tiga meja bundar. Sambil menunggu pesanan, saya melihat televisi yang sedang menyiarkan acara yang menarik. Tiba-tiba saja, tanpa permintaan maaf, pelayan restoran itu datang, mengambil remote control dan memindah-mindahkan tayangannya seenaknya sendiri. “Televisi itu untuk pelanggan atau untuk dia sih?” ujar sahabat saya dengan nada tidak senang. Sahabat saya yang lain menambahkan, “Dulu saya pernah makan di sini dan saat minta tambahan menu malah dibentak-bentak oleh pelayannya, ‘Kalau pesan sekalian saja. Jangan satu satu!’” Wow, ini karyawan apa kuntilanak? Mari berbenah. (Xavier).

Doa: Bapa, ajar aku untuk bersikap ramah terhadap siapa pun.

Posted in Renungan | Leave a comment

BAU DAN BUNYI

Diambil Dari Buku 100 Ger Dokter (Xavier Quentin Pranata)

Seorang ibu mendatangi seorang dokter dan mengeluh, “Dok, saya punya gangguan perut. Saya sering sekali buang gas, tetapi tidak bau dan tidak bunyi. Meskipun demikian, saya merasa bersalah karena kentut di depan banyak orang, termasuk di ruangan ini. Perlu Dokter ketahui, saya sudah tiga kali buang gas di ruang praktik Dokter!”

“Jangan khawatir, Bu, saya tahu obatnya,” ujar dokter itu sambil menuliskan resep.

Seminggu kemudian, ibu itu kembali. “Sudah baikan,” tanya dokter.

“Saya tidak tahu obat apa yang Dokter berikan,” jawab ibu itu, “tetapi jika sekarang saya kentut, baunya tidak karu-karuan. Saya sendiri bahkan hampir pingsan saat menciumnya. Namun, setiap kali buang gas, kentut saya tidak berbunyi sama sekali, Dok!”

“Wah, kalau begitu ada kemajuan. Hidung Anda sudah sembuh” ujar dokter itu. “Sekarang saya tinggal tulis satu resep lagi.”

“Lho, untuk apa, Dok?”

“Untuk menyembuhkan telinga Ibu!”

Posted in Humor | Leave a comment