BERKAH DI BALIK MUSIBAH

Diambil dari buku Kisah Inspirasional Plus (Xavier Quentin Pranata)

Firman Tuhan:

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (2 Kor. 12:9)

Kisah Kehidupan:

Indonesia menangis. Dua kalimat itu mungkin yang paling tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi kita saat ini. Bencana alam datang silih berganti. Tsunami, gempa, semburan lumpur, banjir datang tanpa diundang. Sakit penyakit seperti AIDS, cikungunya, demam berdarah, flu burung terus menerus meneror kita. Kecelakaan transportasi baik darat, laut maupun udara tanpa kenal lelah menghantui kita. Mengapa penderitaan menjadi langganan kita? Apa yang bisa kita lakukan?

Jawaban atas pertanyaan itu justru saya dapatkan dari beberapa buku yang memiliki judul yang kontroversial. Semua buku itu dimulai dengan pertanyaan yang sering kita tanyakan. Why A Good God Allow Suffering (Mengapa Allah yang Baik Mengizinkan Penderitaan); Where is God When It Hurts (Di Manakah Tuhan ketika Kita Menderita); bahkan When God Doesn’t Make Sense (Ketika Tuhan Tidak Masuk Akal).

Dari buku-buku itu saya belajar tentang The Gift of Pain alias berkah di balik musibah. Pertama, Tuhan mengizinkan penderitaan untuk menyadarkan kita bahwa kita adalah makhluk yang terbatas. Banyak hal yang sulit kita pahami. Otak kita tidak mampu memahami setiap fenomena alam yang terjadi. Itulah sebabnya kita harus bergantung harap kepada Tuhan.

Kedua, Tuhan ingin memperingatkan kita bahwa setiap perbuatan itu pasti ada konsekuensinya. Jika kita menggunduli hutan dan membuang sampah sembarangan, maka alam pun akan mengamuk. Air yang seharusnya menjadi sahabat kita bisa menjadi musuh kita. Api yang sangat bermanfaat untuk memasak justru bisa menjadi si jago merah yang menghanguskan rumah kita jika kita membuang puntung rokok sembarangan.

Ketiga, penderitaan itu bisa mempersatukan kita. Saat Tsunami melanda Aceh, gempa melanda Jogja dan lumpur menggenangi Sidoarjo, segenap lapisan masyarakat tanpa dikomando berdoa bersama dan bekerja bersama. Mereka tidak saja bekerja sama, tetapi sama-sama bekerja. Mari bergotong royong membangun bangsa.

Doa: Bapa, meskipun sulit kumengerti, tetapi penderitaan seringkali membawa hikmat bagiku untuk melangkah lebih baik lagi.

Posted in Inspirasi | Leave a comment

MELEPASKAN SEPATU

Diambil Dari buku 100 Humor Suami Istri (Xavier Quentin Pranata)

Seorang pria bercerita kepada temannya, “Setiap malam istriku selalu melepaskan sepatuku.” Lalu temannya menjawab, “Setiap kamu pulang, dengan setia dia melepaskan sepatumu? Wah, beruntung sekali kamu!” “Oh bukan begitu. Maksudku setiap aku akan pergi!” jawab pria tersebut.

Posted in Humor | Leave a comment

KERAMAHAN

Diambil Dari Buku Sukses Sejati (Xavier Quentin Pranata)

“Penduduk pulau itu sangat ramah terhadap kami. Mereka menyalakan api besar dan mengajak kami semua ke situ karena telah mulai hujan dan hawanya dingin” (Kisah 28:2).

Profesional, setiap kali ada orang yang bertanya, “Jika mengunjungi suatu tempat, apa yang paling Bapak lihat dan harapkan?” Saya selalu menjawab singkat, “Keramahan penduduknya.” Demikian juga jika saya mengunjungi toko. Ada sebuah restoran Perancis yang setiap kali saya datang, manajernya selalu menghampiri saya dengan senyuman ramah dan berkata, “Selamat datang Pak Xavier.” Demikian juga jika saya mampir di Warung Gudeg Bu Har di Surabaya, pemiliknya dengan senyum ramah selalu menyambut saya. Hal yang sama saya alami jika makan di Manise Restaurant di Perth. Pemiliknya, Johannes, bukan hanya menyambut dengan ramah, seringkali malah menambahkan lauk yang tidak ada di menu yang bisa bikin iri pelanggan lain ha, ha, ha.

Di bisnis apa pun, kemarahan tetap menjadi panglima. Seberapa sering kita membaca di surat kabar di rubrik “Pembaca Menulis” atau “Surat Pembaca” yang mengeluhkan pelayanan yang buruk. Seringkali di akhir suratnya mereka menulis, “Saya tidak akan datang ke tempat itu lagi!” Celakanya, cerita buruk semacam itu jauh lebih cepat menyebar daripada cerita yang baik dan mengesankan. Itulah sebabnya ketika makan bersama seorang penyanyi pendatang baru di sebuah depot seafood, ada tulisan yang belakangan sering terpampang di rumah-rumah makan: “Jika ada keluhan, hubungi kami. Jika berkesan, ceritakan kepada orang lain!”

Profesional, saya pun trauma untuk datang ke tempat-tempat yang karyawannya tidak ramah. Suatu kali saya makan di sebuah restoran besar bersama teman-teman. Kami booking tiga meja bundar. Sambil menunggu pesanan, saya melihat televisi yang sedang menyiarkan acara yang menarik. Tiba-tiba saja, tanpa permintaan maaf, pelayan restoran itu datang, mengambil remote control dan memindah-mindahkan tayangannya seenaknya sendiri. “Televisi itu untuk pelanggan atau untuk dia sih?” ujar sahabat saya dengan nada tidak senang. Sahabat saya yang lain menambahkan, “Dulu saya pernah makan di sini dan saat minta tambahan menu malah dibentak-bentak oleh pelayannya, ‘Kalau pesan sekalian saja. Jangan satu satu!’” Wow, ini karyawan apa kuntilanak? Mari berbenah. (Xavier).

Doa: Bapa, ajar aku untuk bersikap ramah terhadap siapa pun.

Posted in Renungan | Leave a comment

BAU DAN BUNYI

Diambil Dari Buku 100 Ger Dokter (Xavier Quentin Pranata)

Seorang ibu mendatangi seorang dokter dan mengeluh, “Dok, saya punya gangguan perut. Saya sering sekali buang gas, tetapi tidak bau dan tidak bunyi. Meskipun demikian, saya merasa bersalah karena kentut di depan banyak orang, termasuk di ruangan ini. Perlu Dokter ketahui, saya sudah tiga kali buang gas di ruang praktik Dokter!”

“Jangan khawatir, Bu, saya tahu obatnya,” ujar dokter itu sambil menuliskan resep.

Seminggu kemudian, ibu itu kembali. “Sudah baikan,” tanya dokter.

“Saya tidak tahu obat apa yang Dokter berikan,” jawab ibu itu, “tetapi jika sekarang saya kentut, baunya tidak karu-karuan. Saya sendiri bahkan hampir pingsan saat menciumnya. Namun, setiap kali buang gas, kentut saya tidak berbunyi sama sekali, Dok!”

“Wah, kalau begitu ada kemajuan. Hidung Anda sudah sembuh” ujar dokter itu. “Sekarang saya tinggal tulis satu resep lagi.”

“Lho, untuk apa, Dok?”

“Untuk menyembuhkan telinga Ibu!”

Posted in Humor | Leave a comment

KETULUSAN HATI

Diambil dari buku: 100 Kisah Cekak Yang Membuat Bijak (Xavier Quentin Pranata)

“Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan” (2 Korintus 8:2).

Saya pernah menyaksikan acara reality show yang sangat menyentuh. Dengan kamera tersembunyi, produser mencari orang-orang yang tulus hatinya yang mau menolong orang lain meskipun mereka sendiri sedang dirundung kemalangan. Di layar kaca tampak seorang anak perempuan sedang berusaha keras menjual nasi bungkusnya, tetapi tidak seorang pun yang mau membelinya. Akhirnya dia mencoba menawarkan nasi bungkus itu kepada seorang tukang cuci pakaian. Ibu itu sendiri tampak menderita hidupnya. Dari pakaiannya yang kumal dan rambutnya yang awut-awutan, kita tahu bahwa kehidupan ekonominya tidak berbeda dengan anak perempuan yang jual nasi bungkus itu.

“Untuk apa sih kamu jual nasi bungkus?” tanya ibu itu ketika anak itu terus menawarinya nasi bungkus.

“Untuk membayar uang sekolah, Bu,” jawab anak itu.

Begitu mendengar kata itu, ibu itu langsung lari. Tentu saja anak itu kaget. Namun, tidak lama kemudian ibu itu keluar dengan membawa uang lima puluh ribuan. Nasi bungkus anak itu dibeli semuanya. Ternyata dia lari itu untuk mengambil uang.

Kekasih Tuhan, ibu itu jelas tidak membutuhkan nasi bungkus sebanyak itu. Dia pun tidak mungkin menjualnya kembali. Dia hanya merasa kasihan terhadap anak yang tidak bisa membayar uang sekolah jika nasi bungkusnya tidak terbeli. Padahal, ibu itu sendiri dalam kondisi kekurangan. Luar biasa bukan? Seperti jemaat di Makedonia, meskipun ibu itu sendiri sangat miskin, tetapi dia kaya dalam kemurahan. Suatu teladan yang baik, bukan?

Doa: Bapa, ajar aku untuk memiliki hati yang penuh kasih seperti ibu pencuci pakaian itu.

Posted in Inspirasi | Leave a comment

New Release – 100 Kisah Kocak Yang Membuat Bijak

 

Banyak cara untuk meningkatkan upaya pemberdayaan dan pembelajaran seseorang dan salah satu cara yang sangat popular adalah lewat bacaan. Itu sebabnya, dalam rangka meningkatkan upaya tersebut, buku ini diterbitkan. Sangat mungkin buku-buku yang menyajikan kisah-kisah lucu sudah banyak, namun kumpulan kisah lucu yang disajikan dalam buku ini datang dari berbagai sumber yang sempat dikumpulkan oleh penulis.

Mengapa kisah-kisah lucu perlu dibukukan? Sebab, dengan cara demikian kisah-kisah tersebut bisa didokumentasikan sehingga isinya yang berupa pesan-pesan atau ajaran-ajaran yang bersifat moral, motivasional, atau inspirasional, tidak mudah lenyap begitu saja.

Nah, 100 Kisah Kocak yang Membuat Bijak ini menyajikan kisah-kisah atau cerita-cerita lucu yang dapat memotivasi atau menginspirasi Anda. Selain itu, Anda juga bisa menggunakannya sebagai bahan ice breaker (Pembangkit suasana) ketika Anda hendak memulai suatu pertemua, yang suasananya tampak kaku atau tegang.

 

Posted in New Release | Leave a comment

PERTAMA YANG BUKAN PERTAMA

Diambil dari buku: 100 Wisdom For Today – Zavier Quentin Pranata

“Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Korintus 15:20).

Belakangan ini, semakin banyak orang yang memakai kata ‘pertama’ untuk mengiklankan produknya. Di layar kaca stasiun televisi, kita sering membaca kalimat “Pertama kali di layar kaca”. Apa artinya? Tayangan itu sudah pernah diputar di bioskop tetapi baru saat itu diputar di televisi. Namun, benarkah klaim itu? Tidak! Seharusnya klaim itu ditambah kata “Indonesia”. Mengapa? Karena tayangan itu sudah sering ditayangkan di televisi asing atau bahkan TV kabel.

Ketika memberikan seminar motivasi, ada seorang peserta yang minta bertemu dengan saya. Karena dia tahu saya seorang penulis buku, dia memberikan sebuah bukunya untuk saya beri komentar. Di sampul buku itu ada tulisan “Pertama hadir di Indonesia”. Dia mencoba untuk jujur. Mengapa? Karena buku dengan tema dan pokok bahasan itu sudah sangat populer di media massa asing, terutama yang berbahasa Inggris.

Kekasih Tuhan, apa yang kita anggap ‘baru’ di Indonesia, bahkan ‘pertama hadir’ sekalipun sebenarnya merupakan produk daur ulang dari luar negeri entah itu penjiplakan murni, terinspirasi atau adaptasi. Bagi saya produk yang berbeda sudah menunjukkan produsennya kreatif. Di dunia tulis-menulis yang saya geluti, ada istilah 3 N yang diambil dari bahasa Jawa yaitu, niteni (memperhatikan), nirokne (menirukan) dan nambahi (menambahkan). Jika kita membaca buku yang bagus di luar negeri, kita bisa menulis tema yang sama dengan cara tiga hal itu. Dalam hal ini nambahi itu yang penting. Kita beri muatan dan kisah lokal sudah menjadi buku yang membumi di Indonesia. Selamat berkarya.

Doa: Bapa, ajar aku untuk kreatif di dalam menyikapi hidup dengan meneladani-Mu.

Posted in Inspirasi | Leave a comment

TUHAN MAHA BAIK

Diambil dari buku: 100 Ha Ha Pendeta – Xavier Quentin Pranata

Seorang Pendeta sedang mengunjungi jemaatnya, bercakap-cakap sambil menikmati secangkir kopi dan kue. Tiba-tiba, anak jemaat yang berumur 10 tahun itu masuk sambil memegang tikus besar dan berkata, “Jangan kuatir bu, tikus ini sudah mati. Pertama saya tangkap, lalu saya pukul, saya tendang dan …”

Anak ini baru melihat bahwa di rumahnya ada Pendeta, ia kaget dan ia melanjutkan kata-katanya, “Dan Tuhan yang Maha baik mengangkat jiwanya ke Sorga.”

Posted in Humor | Leave a comment

MASALAH: TELAGA HATI

Diambil dari buku 100 Touching Stories – Xavier Quentin Pranata

“Saat kita dikelilingi oleh masalah yang setebal karang yang tampaknya sulit kita tembus, menengoklah ke atas dan lihatlah betapa luasnya jalan keluar yang Tuhan sediakan bagi kita.” Xavier Quentin Pranata

 Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu Ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya,” ujar pak tua

“Pahit, pahit sekali,” jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.

Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya.  Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu. Sesampai di sana, pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.  “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar,” sahut si pemuda.

“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu?” tanya pak tua.

“Tidak,” sahut pemuda itu.

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya pun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang kamu dapat lakukan, lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu lalu kembali menasihatkan, “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian. Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik.”

 Untuk Direnungkan: Hidup yang kita jalani memang penuh masalah, persoalan dan penderitaan. Meskipun demikian, Tuhan menjanjikan bahwa pencobaan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita untuk menanggungnya. Mengapa kita tidak memperluas wadah yang kita miliki?

Posted in Kisah | Leave a comment

NEW RELEASE

 

Ada potensi unik yang Tuhan taruh dalam diri kita masing-masing. Bagian kita adalah menemukan, membangkitkan, dan melejitkan potensi tersebut.

Ada banyak ide dan pengalaman yang bisa digali dari sekitar kita untuk kita bisa mengembangkan potensi kita. Buku ini adalah salah satu sumber ide tersebut.

Bersama firman Tuhan dan melalui beragam kisah dalam buku yang berisi 366 renungan ini, temukanlah momen dan titik balik di mana Anda dapat menemukan dan mengembangkan potensi unik Anda.

Telah terbit…. Buku terbaru Xavier Quentin Pranata… 366 Renungan untuk menemukan, membangkitkan, dan melejitkan potensi pribadi.

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi Vera (08385 475 4408) atau www.xavierquentin.com

 

Posted in New Release | Leave a comment